6/18/2013

Meneladani Akhlak Rasulullah

  Beliau adalah orang yang lembut, murah hati, mampu menguasai diri, suka memaafkan saat memegang kekuasaan dan sabar saat ditekan. Aisyah berkata,"Jika Rasulullah Saw harus memilih di antara  dua perkara, tentu beliau memilih yang paling mudah di antara keduanya, selagi itu bukan suatu dosa. Jika suatu dosa, maka beliau adalah orang yang paling menjauh darinya. Beliau tidak membalas untuk dirinya kecuali jika ada pelanggaran terhadap kehormatan Allah, lalu dia membalas karena Allah. Beliau adalah orang yang paling tidak mudah marah dan paling cepat ridha. Beliau murah hati dan dermawan, dan selalu memberikan apapun dan tidak takut menjadi miskin.

  Ibnu Abbas berkata,"Nabi Saw adalah orang yang paling murah hati. Kemruahan hati beliau yang paling nampak yaitu pada bulan Ramadhan saat didatangi Jibril. Jibril menghampiri beliau setiap malam pada bulan Ramadhan, untuk mengajarkan Al Quran kepada beliau. Beliau benar-benar orang yang sangat murah hati dalam memberikan hal-hal yang baik atau beramal daripada angin yang berhembus."

  Nabi Saw adalah orang yang pemalu dan suka menundukkan mata. Abu Sa'id Al-Khudry berkata," Beliau Saw adalah orang  yang lebih pemalu daripada gadis di tempat pengitannya. Jika tidak menyukai sesuatu, maka bisa diketahui dari raut mukanya." Belaiau tidak pernah lama memandang ke wajah seseorang, menundukkan pandangan, lebih banyak memandang ke arah tanah daripada memandnag ke arah langit, pandangannya jeli, tidak mempermalukan seseorang.

  Nabi Saw adalah orang yang paling adil, paling mampu menahan diri, paling jujur perkataannya dan paling besar amanatnya. Beliau tidak menginginkan orang yang sedang duduk untuk berdiri menyambutnya, seperti yang dilakukan para raja, beliau terbiasa menjenguk orang sakit, duduk-duduk bersama orang-orang miskin, memenuhi undangan hamba sahaya, duduk di tengah para sahabat, sama seperti keadaan mereka. Aisyah ra berkata," Beliau biasa menambal sepatunya, menjahit bajunya, melakukan pekerjaan dengan tangan sendiri, seperti dilakukan salah seorang  di antara kalian di dalam rumahnya. Beliau sama dengan orang lain, mencuci pakaiannya, memerah air susu dombanya, dan membereskan urusannya sendiri.

  Beliau adalah orang yang paling berusaha untuk memenuhi janji, menyambung tali persaudaraan, paling menyayangi dan bersikap lemah lembut terhadap orang lain, paling bagus pergaulannya, paling lurus akhlaknya, jauh dari keburukan, tidak pernah berbuat keji atau menganjurkan kekejian, tidak suka mengumpat, tidak membalas keburukan dengan tindakan serupa tetapi membiarkannya dengan ikhlas. 


 ---emyr---                                                                                                              

Allah yang Haq

"Allah yang Haq itu tidak tehalangi (tertutup). Sesungguhnya yang terhalang adalah kamu dari melihat kepadaNya. Sebab seandainya ada sesuatu yang menghalangiNya, pastilah Allah tertutup. Setiap yang menutup harus lebih besar. Sedangkan Allah adalah Zat yang Menguasai semuanya." (Ibn Athaillah)

Sesungguhnya Allah tidak tertutup. Seandainya manusia tidak bisa melihat kepadaNya karena adat tutup yang menutupi manusia, bukan Allah. Jika seseorang ingin sampai kepada Allah, serta masuk kehadiratNya, pertama-tama dia harus mencari cela dirinya. Kemudian mengobati cela itu. Dengan banyak bertobat, menjalankan ketaatan, dan menyingkirkan keburukan dari dalam hati dan perbuatannya. Dengan mengobati cela maka tabir penghalang lambat laun akan terbuka.

Tiada yang mampu menghalangi Allah karena Dia Maha Besar. Kalau sesuatu menutupiNya mka sesuatu itu harus lebih besar, sedangkan tidak ada yang lebih besar dari Allah. Maha Suci Allah dari kekurangan.

Apabila Allah menghendaki menghilangkan tabir yang menutupi manusia kepada siapa saja yang dikehendakiNya, niscaya orang itu akan bisa melihat Zat yang tidak ada sesuatupun yang dapat menyamaiNya. Dialah Allah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. Setiap muslim harus beritikad kuat untuk melihatNya.


"Keluarkanlah dari sifat-sifat kemanusiaanMu yang buruk dari setiap sifat yang dapat merusak sifat penghambaanMu agar kamu dapat menyambut panggilan Allah yang Haq, dan hadiratNya lebih dekat."

Tidak akan pernah sampai kepada Allah orang yang memiliki sifat tercela, seperti: ujub, riyaa', takabbur, dengki dan sejenisnya. Orang-orang yang merasa menempuh jalan spiritual tapi belum bisa meninggalkan sifat-sifat buruk akan tersaring menuju tingkatan berikutnya, dan kembali ke tingkatan awal, yaitu tobat. Jadi orang-orang yang memiliki maqam spiritual yang tinggi akan jauh dari sifat-sifat buruk dan tercela.

Cara membuang sifat-sifat buruk tersebut adalah dengan latihan yang keras dan sungguh-sungguh, istiqamah, dan menukarnya dengan segala macam bentuk ketaataan yang terhampar bagaikan hidangan.

Lawan dari sifat-sifat buruk  adalah tawadhu' atau rendah hati, khusyu', bersikap santun, dan ikhlas dalam semua ibadah. Maka ketika ada undangan secara samar dari Allah, niscaya dia dapat menerima, memahami dan menyambut undangan tersebut dengan baik.


Guru sejati

“Sejengkal seorang hamba dekati Tuhannya, sehasta Tuhan akan datangi. Selangkah ia datangi, seribu langkah Ia akan berlari menjemput.”
Dia Maha Baik. Tapi begitulah agaknya bila seorang hamba… kembali. Bila kita datang dan mengetuk, pasti Ia membukakan pintu. Bahkan sekerling lirikan, sejumput doa yang tulus, tak akan disia-siakan. Ia menarik, memikat, dengan segala cara. Dibuat-Nya kita betah berkumpul di sebuah pengajian, atau membaca berlama-lama tentang kebaikan, atau senang berderma diam-diam. Jika kita miskin, Ia akan cukupkan. Jika kita terlampau kaya, Ia pun akan cukupkan



  ----emyr----
                                                                                                   

stages/tahap-tahap/maqam ma'rifatullah

1.    Al-Zuhud
Zuhud adalah suatu keadaan meninggalkan keduniawian dan hal-hal yang bersifat kematerian. Orang zuhud menyimpan harta di tangannya, bukan di dalam hatinya. Jadi orang zuhud tidak akan sedih meskipun kehilangan hartanya. Zuhud merupakan suatu  ajaran agama yang sangat penting dalam rangka mengendalikan diri dari kehidupan dunia. Orang yang zuhud cenderung mengejar kehidupan akhirat yang kekal dan abadi dari pada kehidupan dunia yang fana dan sementara.

2.    Al-Taubah
Taubah berasal dari bahasa Arab yang artinya kembali. Taubat dalam pencapaian ini memiliki arti taubat yang sebenarnya (taubat al-Nasuha) yaitu menyesali segala perbuatan dosa yang pernah dilakukan dan berjanji serta bersungguh-sungguh untuk tidak melakukannya lagi. Para salik adalah orang yang selalu menyesali diri ketika berbuat dosa, dan hal itu dilakukan setiap hari, karena bagi mereka dosa yang lalu belum tentu mendapat pengampunan dari Allah.

3.    Al-Wara’
Wara’ memiliki arti saleh, menjauhkan diri dari perbuatan dosa (hal-hal yang tidak baik). Wara’ dalam pengertian ini adalah meninggalkan sesuatu yang diragukan halal dan haramnya (syubhat)dan tidak jelas asal-usulnya.

4.    Al-Faqr
            Pada umumnya fakir diartikan sebagai orang yang berhajat, butuh, atau orang miskin. Sedangkan dalam pandangan salik, fakir adalah tidak meminta lebih dari apa yang telah ada pada diri kita. mereka tidak meminta rezeki kecuali hanya untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya saja.

5.    Al-Shabr
Secara harfiah sabar berarti tabah hati. Sabar merupakan salah satu maqam utama para salik. Bagi mereka kesabaran adalah syarat mutlak untuk mencapai tingkat spiritual yang khusus. Dikalangan para salik sabar terbagi menjadi tiga, yaitu sabar untuk menghindari maksiat, sabar dalam ketaatan, dan sabar ketika mendapat musibah.
Menurut Ali Ibn Abi Thalib bahwa sabar itu adalah bagian dari iman sebagaimana kepala yang kedudukannya lebih tinggi dari pada jasad. Hal itu menunjukkan bahwa sabar sangat memegang peranan penting dalam kehidupan manusia.

6.    Al-Tawakkal
Tawakkal mempunyai arti menyerahkan diri. Tawakkal berarti menyerahkan diri pada qada dan keputusan Allah. Jika mendapat pemberian meraka akan bersyukur dan jika tidak mendapat apa-apa mereka akan bersabar. Menyerahkan kepada Allah dengan Allah dan karena Allah.

7.    Al-Ridla
Secara harfiah ridha mempunyai arti rela, suka, senang. Para pencari tuhan mengartikan ridha adalah penerimaan seseorang atas keputusan Allah. Ketika seorang salik melatih diri untuk menerima keputusan Allah, ia akan menutup dirinya dari pilihan-pilihan lain selain pilihan Allah.
Keridhaaan yang dipraktekkan oleh para salik adalah buah penerimaan mereka terhadap Allah sebagai Tuhan yang menentukan segala-galanya.ada sebuah ikrar yang populer di kalangan salik atau pencari tuhan, yaitu ”Aku ridha (menerima) Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai nabi dan rasul.


                                                                                                                                       ---emyr---

Suluk

   Suluk berarti memperbaiki akhlak, mensucikan amal, dan menjernihkan pengetahuan. Suluk merupakan aktivitas rutin dalam memakmurkan lahir dan batin. Segenap kesibukan hamba hanya ditujukan kepada Sang Rabb. Bahkan ia selalu disibukkan dengan usaha-usaha menjernihkan hati sebagai persiapan untuk sampai kepada-Nya (wusul).

   Ada dua perkara yang dapat merusak usaha seorang salik (pelaku suluk); Pertama, mengikuti selera orang-orang yang mengambil aspek-aspek yang ringan dalam penafsiran. Dan kedua, mengikuti orang-orang sesat yang selalu menurut dengan hawa nafsunya. Barangsiapa yang menyia-nyiakan waktunya, maka ia termasuk orang bodoh. Dan orang yang terlalu mengekang diri dengan waktu maka ia termasuk orang lalai. Sementara orang yang melalaikannya, dia adalah orang-orang lemah.

    Keinginan seorang hamba untuk melakukan laku suluk tidak dibenarkan kecuali ketika ia menjadikan Allah SWT dan Rasul-Nya sebagai pengawas hatinya. Siang hari ia selalu puasa dan bibirnya pun diam terkatup tanpa bicara. Sebab terlalu berlebihan dalam hal makan, bicara, dan tidur akan mengakibatkan kerasnya hati. Sementara punggungnya senantiasa terbungkuk rukuk, keningnya pun bersujud, dan matanya sembab berlinangan air mata. Hatinya selalu dirundung kesedihan (karena kehinaan dirinya di hadirat-Nya), dan lisannya tiada henti terus berdzikir.

   Dengan kata simpul, seluruh anggota tubuh seorang hamba disibukkan demi untuk melakukan suluk. Suluk dalam hal ini adalah segala yang telah dianjurkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya dan meninggalkan apa yang dibenci olehnya. Melekatkan dirinya dengan sifat wara', meninggalkan segala hawa nafsunya, dan melakukan segala hal yang berkaitan erat dengan perintah-Nya. 

   Semua itu dilakukan dengan segala kesungguhan hanya karena Allah SWT, bukan sekedar untuk meraih balasan pahala, dan juga diniatkan untuk ibadah bukan hanya sekadar ritual kebiasaan. Karena sesungguhnya orang yang asyik dengan amaliyahnya, tidak lagi memandang bentuk rupa zahir amalan itu, bahkan jiwanya pun telah menjauh dari syahwat keduniaan. Maka satu hal yang benar adalah meninggalkan segala bentuk ikhtiar sekaligus menenangkan diri dalam hilir mudik takdir Tuhan.

Dalam sebuah syair dinyatakan;Aku ingin menemuinya,Namun Dia menghendakiku untuk menghindarLalu kutanggalkan semua hasratkuDemi apa yang Kau kehendaki

  Sirnakan semua makhluk darimu dengan hukum Allah SWT dan binasakan hawa nafsumu atas perintah-Nya. Demikian halnya, tanggalkan seluruh hasratmu demi perbuatan-perbuatan-Nya (af'al). Dengan demikian, maka kau telah mampu menangkap ilmu Allah SWT.

   Kebebasanmu dari ketergantungan dengan makhluk ditandai dengan perpisahanmu dengan mereka, kau tidak akan kembali dengan mereka, dan kau pun tidak akan menyesali semua yang ada dalam genggaman mereka. Adapun tanda kebebasanmu dari hawa nafsu adalah dengan tidak memasang harapan yang berlebihan dari semua usahamu, dan tidak pula bergantung dengan urusan kausalitas untuk meraih sebuah kemanfaatan ataupun untuk menghindari kebinasaan. 

  Maka kau jangan hanya bergulat dengan dirimu sendiri, jangan terlalu percaya diri, jangan mencelakan atau membahayakan dirimu sendiri. Namun pertama-tama yang harus kau lakukan adalah menyerahkan semuanya pada Yang Berhak, agar Dia berkenan memberikan kuasa-Nya kepadamu. Seperti kepasrahanmu kepada-Nya saat kau berada dalam rahim ibumu, atau saat kau masih dalam susuan ibumu.

  Sementara tanggalnya seluruh hasrat iradah-mu, lebur dalam iradah-Nya ditandai dengan tidak adanya sifat menghendaki dalam dirimu (murid), dalam hal ini kau hanyalah sebagai obyek yang dikehendaki (murad). Bahkan dalam setiap lakumu ada intervensi aktivitas-Nya maka jadilah kau sebagai obyek yang dikehendaki-Nya. 

  Adapun aktivitas-Nya menempati semua anggota ragamu, menenteramkan jiwa, melapangkan dada, menyinari wajahmu, dan memeriahkan suasana batinmu. Takdir menjadi nuansa dalam hatimu, azali senantiasa akan menyerumu. Rabb yang Maha Menguasai mengajarimu dengan ilmu-Nya, menyematkan pakaian untukmu dari cahaya hulul, dan memposisikanmu pada derajat generasi orang terdahulu di antara para ulama yang saleh (ulu al-'ilm).

Aku Sejati

assalamualaikum........
 SIAPA YANG MENYURUHMU UNTUK TIDAK PERCAYA BAHWA ALLAH SWT ITU MAHA KUASA? SIAPA YANG MENYURUHMU UNTUK TIDAK PERCAYA BAHWA ALLAH SWT ITU MEMPERMUDAH SIAPAPUN UNTUK BELAJAR LADUNA ILMANYA? SIAPA YANG MENYURUHMU BERPENDAPAT BAHWA TUHAN ITU MEMPERSULITMU UNTUK MENGABULKAN PERMINTAANMU? SIAPA YANG MENYURUHMU UNTUK MENGINGKARI BAHWA SESUNGGUHNYA KEMANAPUN KAU MENGHADAP DISANA ‘WAJAH’ ALLAH DAN DI SANA PULA ADA KEKUASAAN DAN KEPERKASAAN-NYA? SIAPA YANG MENYURUHMU UNTUK TIDAK PERCAYA BAHWA SUKMAMU BISA KEMANA MANA DAN ADA DI MANA MANA? SIAPA SESUNGGUHNYA YANG MEMPERSULIT HIDUPMU? ALLAH …….ATAU DIRIMU SENDIRI? SALAHNYA SENDIRI TIDAK PERCAYA ….

     Berulangkali pada berbagai kesempatan saya sampaikan bahwa kita semua dengan Allah itu tidak ada jarak. Jadi tidak perlu kita perdebatkan apakah kita ini jauh atau dekat dengan Allah. Diskusi seperti itu tidak akan membuahkan satu kesimpulan yang memuaskanmu. Kecuali malah akan membuatmu pusing dan kecewa karena dalam dirimu tersimpan keraguan syak wasangka, prasangka-prasangka negatif yang sesungguhnya mencerminkan siapa dirimu sendiri. Janganlah begitu kawan, sebab kau tidak tahu maqom pencapaian spiritualitas siapapun, orang lain maupun dirimu sendiri. Hanya Allah yang tahu sampai seberapa jauh pendakian pendakian ruhanimu, pendakian ruhani pak ali, Pak Dirman, pak Joko. Apakah sampai di langit kegaiban yang pertama, kedua, ketiga, ketujuh, kesembilan. Hanya Allah yang tahu sampai berapa luas jangkauan rasamu merasakan getaran suara batin bumi, bulan, bintang dan galaksi-galaksi. Hanya Allah pula yang bisa menilai dirimu sekarang apakah dirimu menjadi hamba setan, hamba khodam, hamba malaikat, hamba dirimu sendiri atau… hamba Allah? Jangan pula gara-gara karena aku tidak menggunakan jubah gamis dan jenggot lantas kamu mengklaim diriku pendusta. Jangan pula gara-gara diriku tidak terlihat Islami lantas dirimu menganggap bahwa aku tidak Islam. Tidak.. anda tidak berhak meskipun mungkin saya seorang preman jalanan, namun engkau tidak berhak menghakimiku…..itu namanya MAIN HAKIM SENDIRI……Siapa di muka bumi ini yang berhak memberi penilaian dan pengadilan yang sesungguhnya? Dirimu bukanlah hakim. Diriku, dirimu, diri kita semua ini hanya ‘menyaksikan’ saja KUASA-KUASA aktif dari Allah SWT. Jadi kita hanya saksi. Hanya Allahlah Al Hakim yang sesungguhnya. Selebihnya kita tidak perlu menilai orang lain lebih baik atau lebih buruk. Nilailah dirimu sendiri karena itu akan memancarkan kebaikan nilaimu di mata orang lain. Siapa lagi selain Allah yang Maha Tahu segalanya? Barangkali, mungkin, kamu sendiri sudah mendapat sedikit bocoran informasi tentang hak-hakmu karena sudah dibisiki oleh malaikat-malaikat yang mendapat petunjuk langsung dari Allah? Ah seandainya kamu memahami bahwa Tiada Tuhan selain Allah, Laa Ilaha Ilallah… Laa Wujuda Ilallah, Tiada wujud apapun (di dunia ini) selain wujud Allah dan hanya Allah lah yang ada, maka kamu detik ini juga harus mengoreksi pemahamanmu, menghapus kesalahan pemahamanmu. Bahwa dirimu itu sesungguhnya tidak ada! Bulan bintang, khodam, jin, malaikat, isteri dan anakmu, itu sesungguhnya tidak ada. Jadi Allah lah satu satunya yang ada… Maka ijinkah kubertanya ketika kamu kebingungan: apakah yang ada itu ada atau tidak ada? Yang ada itu ada dan yang tidak ada itu tidak ada. Bagaimana kau beranggapan yang tidak ada itu ada lha wong ada saja tidak kok? Maka Allah ini berbuat sesuai dengan kehendak Allah. Kau tidak mampu menghalangi apapun yang menjadi keinginan atau iradat-NYA. Tidak ada yang sulit dilakukannya. Lha wong menciptakan dirimu, menciptakan kesadaranmu, menciptakan sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada saja bisa koq, apalagi hanya menciptakan yang sudah ada menjadi bentuk ada yang lain? 

  WISATA ALAM GOIB… 

    Misalnya begini, sedulur suatu saat berwisata ke Vancouver Canada, maka sedulur akan bisa menceriterakan secara detail bagaimana situasi kondisi di sana. Apa yang terekam dalam pikiranmu bisa kau ceriterakan secara detail. Kau tinggal mengenang apa kau lihat, apa yang kau dengar, apa yang kau rasakan ketika itu. Bagaimana caramu untuk sampai kesana? Apakah kau menggunakan pesawat terbang, apakah kau menggunakan kapal laut, apakah kau kesana bersepeda motor, berjalan kaki, atau memakai sajadah terbang.. yang tahu ya dirimu sendiri… tentunya kau butuh bekal perjalanan dan dana yang cukup yang kau kumpulkan sedikit demi sedikit. Dan banyak rahasia lagi yang hanya Allah dan dirimu yang tahu… Itu bekal pertama orang meraga sukma yaitu TAHU CARA MERAGA SUKMA. Maka bila kau pernah tahu ada orang yang bisa meraga sukma, melayangkan sukmanya ke mana-mana janganlah engkau heran, gumun atau kagum. Janganlah gara-gara dirimu belum tahu bagaimana meraga sukma kemudian menganggap meraga sukma itu hal yang tidak mungkin. Padahal yang demikian ini bisa dilakukan oleh siapapun juga. Sama seperti pengendara onta. Siapa yang bisa naik onta? Apakah hanya orang Arab yang bisa naik onta? Tentu saja tidak sebab orang Indonesia, orang Mesir, orang Inggris, orang Brazil dan Argentina pasti juga bisa melakukannya asal tahu cara naik onta, dia punya NIAT, BERLATIH, ada onta dan syarat paling utama adalah DIKEHENDAKI ALLAH atau DIIJINKAN OLEH ALLAH. Begitu juga dengan meraga sukma. Kemampuan ini sudah ada pada diri setiap manusia. Maka inilah yang bisa saya jelaskan soal meraga sukma, dan silahkan untuk mempraktekkannya secara mudah, murah dan sederhana. Ki Ageng Selo, sesepuh tanah Jawa, mengajari cara meraga sukma yaitu dengan metode dzikir. Seorang ahli meraga sukma maka dia mampu menguasai tubuh sepenuhnya, mampu untuk menguasai perjalanan nafas dan darah, sehingga orang tidak lekas naik darah dan tidak mudah dipermainkan oleh urat syarafnya yang besar faedahnya bagi kesehatan badan. Menguasai perasaan, yaitu dapat menahan rasa marah, jengkel, sedih, takut dan sebagainya, sehingga dalam keadaan bagaimanapun juga selalu tenang dan sabar, oleh karena itu lebih mudah untuk dapat mengambil tindakan-tindakan yang setepat-tepatnya. Menguasai pikiran, sehingga pikiran itu dalam waktu-waktu yang terluang tidak bergerak semaunya sendiri dengan tidak terarah dan bertujuan, akan tetapi dapat diarahkan untuk memperoleh pengertian dan kesadaran tentang soal-soal hidup yang penting. Orang yang bisa meraga sukma, maka sukmanya tegar dan tidak akan gentar oleh apapun seperti Nabi Muhammad yang tidak kenal rasa takut dan tidak gentar dalam keadaan bagaimanapun. Beliau sabar, tenang dan selalu diliputi oleh rasa kasih sayang kepada sesama hidup dan karena itu beliau dicintai oleh semua ummat manusia, beliau mencintai segala ciptaan Allah. Sikap sukma sempurna seperti itu pernah dicontohkan Rasulullah, tatkala tiba-tiba Da’tsur menodongkan pedangnya kearah leher nabi, seraya berkata lantang: “Siapa yang akan menolong engkau dalam keadaan seperti ini, ya Muhammad?”. “Allah yang menolongku”, jawab nabi dengan tenang. Jawaban sederhana yang tidak disangka-sangka oleh Da’tsur, merontokkan karang sukma yang pongah, tubuhnya bergetar seakan tidak lagi disanggah oleh tulang-tulangnya yang besar. Daya apa gerangan yang mengalir dari mulut Muhammad, membuat jiwanya sesaat seperti mati tak berdaya. Pedangnya terpental jatuh ketanah, kemudian Rasulullah berganti membalas menodongkan pedang kearah leher Da’tsur, dan beliau berkata : “Siapa yang akan menolong engkau ,ya Da’tsur?” Ia jatuh bersimpuh pada kaki Rasulullah sambil mengiba untuk diampuni atas sikapnya yang congkak dan berkata hanya enGkau ya Muhammad yang bisa menolongku. Seketika itu Rasulullah menasehati agar ia kembali ke jalan Islam. Peristiwa di atas merupakan sikap sempurna dari ketegaran sukma untuk mengendalikan raga yang dimiliki Rasulullah. Sebab kuatnya sukma yang pasrah dan kepercayaan akan kekuasaan Allah, perlindungan, kedekatan Allah diatas segala-galanya. Dzikir kepada Allah bukan hanya sekedar menyebut nama Allah di dalam lisan atau didalam pikiran dan sukma. Akan tetapi dzikir kepada Allah ialah ingat kepada Asma, Dzat, Sifat, dan Af”al-Nya. Kemudian memasrahkan kepada-Nya hidup dan mati kita, sehingga tidak akan ada lagi rasa khawatir dan takut maupun gentar dalam menghadapi segala macam mara bahaya dan cobaan. Sebab kematian baginya merupakan pertemuan dan kembalinya ruh kepada raja diraja Yang Maha Kuasa. Mustahil orang dikatakan berdzikir kepada Allah yang sangat dekat, ternyata sukmanya masih resah dan takut, berbohong, tidak patuh terhadap perintah-Nya dll. KONKRITNYA SUKMA YANG BERDZIKIR KEPADA ALLAH ADALAH MERASAKAN KEBERADAAN ALLAH ITU SANGAT DEKAT, SEHINGGA MUSTAHIL KITA BERLAKU TIDAK SENONOH DIHADAPAN-NYA, BERBUAT CURANG, DAN TIDAK MENGINDAHKAN PERINTAH-NYA. Ada sebagian ahli dzikir yang tidak mau melaksanakan ibadah shalat, dengan dalil sudah sampai kepada tingkat ma’rifat atau fana. Dengan alasan wa aqimish shalata lidzikri, karena tujuan shalat adalah ingat. Namun ia tidak sadar, bahwa ingat disini … tidak hanya kepada nama-Nya atau kepada dzat-Nya, akan tetapi konsekwensinya harus MENERIMA APA KEMAUAN YANG DIINGAT, YAITU KEMAUAN ALLAH SWT SEPERTI APA YANG TELAH DIPERINTAHKAN DIDALAM SYARIAT-NYA . INI KUNCINYA…. Dzikir secara lisan seperti menyebut nama Allah berulang-ulang. Dan satu tingkat diatas dzikir lisan adalah hadirnya pemikiran tentang Allah dalam kalbu, kemudian upaya menegakkan hukum syariat Allah dimuka bumi dan membumikan Al Qur’an dalam kehidupan. Juga termasuk dzikir adalah memperbagus kualitas amal sehari-hari dan menjadikan dzikir ini sebagai pemacu kreatifitas baru dengan mengarahkan niat kepada Allah lillahita’ala ….. Dzikir biasanya dibagi menjadi dua yaitu dzikir dengan lisan, dan dzikir qalbu di dalam sukma. Dzikir lisan merupakan jalan yang akan menghantar pikiran dan perasaan yang kacau menuju kepada ketetapan dzikir qalbu kemudian dengan dzikir inilah semua kedalaman ruhani akan kelihatan lebih luas, sebab DALAM WILAYAH SUKMA INI ALLAH AKAN MENGIRIMKAN PENGETAHUAN BERUPA ILHAM. Dzikir kepada Allah bermakna, bahwa manusia sadar akan dirinya yang berasal dari Sang Khalik, yang senantiasa mengawasi segala perbuatannya. Dengan demikian manusia mustahil akan berani berbuat curang dan maksiat dihadapan-Nya. Dzikir berarti kehidupan, karena manusia ini adalah makhluq yang akan binasa sementara Allah senantiasa hidup, melihat, berkuasa, dekat, dan mendengar, sedangkan menghubungkan (dzikir) dengan Allah, berarti menghubungkan dengan sumber kehidupan …. Sabda Rasulullah ====Perumpamaan orang yang berdzikir dengan orang yang tidak berdzikir seperti orang yang hidup dengan orang yang mati==== Itulah gambaran dzikir yang dituturkan Rasulullah Saw. Bahwa dzikir kepada Allah itu bukan sekedar doa yang berisi ungkapan sastra puisi prosa lagu, juga bukan hanya hitungan-hitungan lafadz, melainkan suatu HAKIKAT YANG DIYAKINI DIDALAM JIWA DAN MERASAKAN KEHADIRAN ALLAH DISEGENAP KEADAAN, SERTA BERPEGANG TEGUH DAN MENYANDARKAN HIDUP DAN MATINYA HANYA UNTUK ALLAH SEMATA. =====Dan sebutlah Tuhanmu dalam sukmamu, jiwamu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.====== Aku hadapkan wajahku kepada wajah yang menciptakan langit dan bumi, dengan lurus. Aku bukanlah orang yang berbuat syirik, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku kepada Tuhan sekalian Alam …. Adapun hitungan-hitungan lafadz, seperti membaca Asmaul Husna, membaca Alqur’an, shalat, haji, zakat, …. merupakan bagian dari sarana dzikrullah, bukan dzikir itu sendiri, yaitu dalam rangka menuju penyerahan diri lahir dan batin kepada Allah. Tidak ada kemuliaan yang lebih tinggi dari pada dzikir dan tidak ada nilai yang lebih berharga dari USAHA MENGHADIRKAN ALLAH DALAM SUKMA, BERSUJUD KARENA KEAGUNGAN-NYA, DAN TUNDUK KEPADA SEMUA PERINTAH-NYA SERTA MENERIMA SETIAP KEPUTUSAN-NYA YANG MAHA BIJAKSANA. Dzikir merupakan kunci membuka hijab dari kegelapan menuju cahya Ilahi. Alqur’an menempatkan dzikrullah sebagai pintu pengetahuan makrifatullah. Monggo dibuka surat Ali Imran 190-191 ………… ======Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tsedulur-tsedulur bagi orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, atau sambil duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka======= Kalimat ===YADZKURUNALLAH=== orang-orang yang mengingat Allah, didalam `tata bahasa arab’ berkedudukan sebagai ma’thuf (tempat bersandar) bagi kalimat-kalimat sesudahnya, sehingga dzikrullah merupakan dasar atau azas dari semua perbuatan peribadatan baik berdiri, duduk dan berbaring serta merenung dan kontemplasi. Dengan demikian praktek dzikir termasuk ibadah yang bebas tidak ada batasannya. Bisa sambil berdiri, duduk, berbaring, atau bahkan mencari nafkah untuk keluarga sekalipun bisa dikatakan berdzikir, jika dilandasi karena ingat kepada Allah. Juga termasuk kaum intelektual yang sedang meriset fenomena alam, sehingga menemukan sesuatu yang bermanfaat bagi seluruh manusia. Dzikrullah merupakan sarana pembangkitan kesadaran diri yang tenggelam, oleh sebab itu dzikir lebih komprehensif dan umum dari berpikir. Karena dzikir melahirkan pikir serta kecerdasan jiwa yang luas, maka dzikrullah tidak bisa hanya diartikan dengan menyebut nama Allah, akan tetapi dzikrullah merupakan sikap mental spiritual mematuhkan dan memasrahkan kepada Allah SWT. Dzikrul memang ditempatkan pada posisi yang sangat tinggi, karena merupakan jiwa atau rohnya seluruh peribadatan, baik shalat, haji, zakat, jihad dan amalan-amalan lainnya. Dari sisi lain, Allah sangat keras mengancam orang yang tidak ingat kepada Allah didalam ibadahnya. Bahkan seluruh peribadatan bertujuan untuk memasrahkan diri dan rela kepada Allah, sebagaimana pasrahnya alam semesta… Untuk mencapai kepada tingkatan yang ikhlas kepada Allah serta menerima Allah sebagai junjungan dan pujaan, jalan atau sarana yang paling mudah telah diberikan Allah, yaitu dzikrullah. Keikhlasan kepada Allah mustahil bisa dicapai, tanpa melatih dengan menyebut nama Allah serta melakukan amalan-amalan yang telah ditetapkan-Nya. Seorang lelaki berkata…. wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat iman itu sungguh amat banyak bagiku, maka kabarkanlah kepadaku dengan sesuatu yang aku akan menetapinya. Beliau bersabda : =====SENANTIASA LISANMU BASAH DARI DZIKIR (INGAT) KEPADA ALLAH TA’ALA.==== Keluhan laki-laki yang datang kepada Rasulullah menjadi pelajaran dan renungan bagi kita, yang ternyata syariat iman itu amat banyak jumlahnya dan tidaklah mungkin kita mampu melaksanakan amalan syariat yang begitu banyak tersebut, kecuali mendapatkan karunia bimbingan dan tuntunan dari Allah SWT. Rasulullah telah memberikan solusinya dengan memerintahkan selalu membasahi lisan kita dengan menyebut nama Allah. Dengan cara melatih berdzikir kepada Allah kita akan mendapatkan ketenangan, kekhusyukan dan kesabaran yang berasal dari Nur Ilahi. 

 KENALI SIAPA ‘AKU’ ………..

 Dulur dulur yang mulia dan bijaksana, monggo kita bersama-sama mengkaji tentang diri. Menyelami kesadaran diri yang sebenarnya, dan mengenali hakikat ruh yang biasa menyebut dirinya ‘aku’. Manusia merupakan makhluq yang sempurna … sehingga diangkat sebagai wakil Tuhan di muka bumi ini. Biarpun sebagian besar orang tidak mengerti banyak tentang sifat sebenarnya dari diri sendiri. Dalam susunan fisik, mental dan kerohaniannya terdapat sifat yang tertinggi maupun terendah. Didalam tulang-tulang terdapat kehidupan bersifat mineral, badan dan darahnya benar-benar mengandung bahan mineral. Kehidupan fisik badan manusia mirip dengan kehidupan tanaman. Banyak keinginan nafsu fisik serta emosi mirip dengan yang dimiliki oleh binatang. kemudian manusia mempunyai seperangkat sifat mental yang menjadi miliknya, dan tidak dimiliki oleh binatang yang bersifat rendah. Selain itu masih ada sifat lebih tinggi yang dimiliki oleh sebagian orang yang lebih maju kerohaniannya, meskipun masih terdapat daya kemauan yaitu daya sang ‘aku’, yang merupakan energi yang diterima dari Yang Maha Mutlak. Benda-benda fisik dan mental tersebut adalah milik manusia, dan bukannya manusia itu sendiri. Sebelum ‘aku’ dapat menguasai atau mengalahkan, dan mengarahkan benda yang menjadi miliknya yaitu alat dan instrumennya terlebih dahulu ia harus menyadari dirinya secara benar. Ia harus dapat membedakan mana yang merupakan Aku dan mana yang merupakan alat atau milik Aku, dapat membedakan mana yang Aku dan mana yang bukan Aku. Inilah tahapan pertama yang harus disadari. Katakan bahwa Ruh itu adalah dari amar-amar-Ku: Aku adalah ruh yang ditiupkan kedalam tubuh yang terbuat dengan komposisi kosmos yang sempurna setelah diberi bentuk. Sang aku bersifat abadi – tidak bisa mati -tidak bisa rusak. Ia memiliki kekuasaan, kebijaksanaan dan kenyataan. Tetapi seperti halnya seorang bayi yang kemudian menjadi dewasa, batin manusia tidak menyadari sifat potensial yang tertidur dalam dirinya, dan tidak mengenal dirinya sendiri yang sebenarnya. Bila diri sendiri yang sebenarnya sudah bangun, ia mengenal mana yang disebut Aku dan mana yang bukan Aku sebagai dirinya sendiri atau Aku. Aku inilah yang akan kembali kehadirat asalnya yaitu INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI’UUN. Sesungguhnya Aku adalah berasal dari Allah dan kepada-Nya-lah Aku kembali…. Orang primitif dan orang beradab jarang menyadari “Aku” nya, rasa keakuan mereka hanya merupakan kesadaran mengenai nafsu badani pemenuhan keinginan, pemuasan kesenangan, memperoleh kenyamanan bagi dirinya. Bagian bawah dari batin naluri merupakan tempat rasa keakuan orang-orang primitif. Bila seorang primitif mengatakan “Aku”, maka yang dimaksud adalah badannya. Badan ini mempunyai perasaan, keinginan dan nafsu. Tetapi pikiran semacam itu terdapat pula pada banyak orang yang mengaku beradab. Mereka menggunakan daya pikirnya guna memenuhi nafsu dan keinginan fisiknya, padahal mereka sebenarnya hidup dalam tingkat batin naluri. Tentu, setelah orang menjadi lebih beradab maka perasaannya menjadi lebih halus, sedangkan orang primitif mempunyai perasaan kasar. Yang perlu dicatat adalah, pikiran orang beradabpun masih diperbudak oleh keinginan dan nafsu badannya. Setelah manusia semakin tinggi tingkatannya, mulailah ia mempunyai konsep tentang Aku nya yang lebih tinggi. Ia mulai menggunakan pikirannya dan akalnya, maka ia pindah dari tingkat batin naluri ke tingkat batin mental mulai menggunakan kecerdasannya, merasakan bahwa batinnya adalah lebih nyata bagi dirinya dari pada badannya, bahkan kadang ia melupakan badannya bila sedang terbenam dalam pemikiran secara serius. Setelah kesadaran orang meningkat yaitu kesadarannya berpindah dari tingkat mental ke tingkat kerohanian maka ia menyadari bahwa ‘aku’ yang sebenarnya adalah sesuatu yang lebih tinggi dari pada pikiran, perasaan dan badan fisiknya, bahwa semuanya ini dapat digunakan sebagai alat atau instrumennya. Pengetahuan ini bukan merupakan pengertian saja, tetapi merupakan kesadaran yang khas, artinya orang benar-benar merasakan sebagai Aku yang sejati. Maka Sedulur dan saya tidak akan mampu MERAGA SUKMA bila kita tidak mampu untuk memidah bergeser dan membangkitkan kesadaran Aku yang suci dan bersih (atau kembali ke fitrat). Kesadaran `’Aku’ ini merupakan langkah untuk merealisasikan hubungan dengan Yang Maha Gaib.

 LATIHANNYA….

Carilah tempat atau ruangan, yang terbebas dari gangguan, agar batin sedulur merasa aman dan tenang. Duduklah yang enak agar sedulur dapat mengendorkan otot-otot dan membebaskan ketegangan syaraf. Lepaskan ketegangan dan biarkan otot-otot menjadi lemas, sampai terasa tenang dan damai meresapi seluruh tubuh. Istirahatkan badan dan pasrahkan seluruh jiwa raga. Atau lakukanlah dengan posisi berdiri, hal ini dilakukan untuk menghindari mudah terlena dan tertidur … Kondisi tersebut sangat baik bagi tahap permulaan praktek latihan, tetapi setelah pengalaman hendaknya mampu melakukan pengendoran badan dan menenangkan pikiran dimana pun dan kapanpun sedulur memerlukannya. Ingat bahwa keadaan dzikir harus berada di bawah penguasaan kemauan yang keras. Didalam melakukan praktek dzikir harus diterapkan pada waktu yang tepat dan atas kemauan sendiri. Sadari bahwa Aku adalah hakikinya manusia yang tidak pernah tidur – tidak mati – abadi, …selalu sadar tidak pernah mengalami sedih dan takut … Aku sang ruh suci yang mampu menembus alam mimpi, alam malakut dan alam uluhiyah… Sekarang sedulur memasuki tahapan yang menyebabkan Aku merasa sebagai makhluk mental. Kalau sedulur memejamkan mata sedulur akan merasakan dan bisa membedakan mana Aku yang sebenarnya … disitu ada aku yang memperhatikan sensasi badan, seperti misalnya : lapar, haus, sakit, sensasi yang menyenangkan, kesedihan. Sedulur akan merasakan ternyata bukan aku sebenarnya yang lapar, sakit dan sedih, akan tetapi itu adalah sensasi peralatan atau instrumen yang dimiliki oleh sang Aku. Sedulur sebenarnya diluar atau diatas semua alat-alat tadi….. Maka dari itu sedulur harus melepaskan diri dari yang bukan hakiki, agar tidak diombang-ambingkan oleh peralatan sendiri. Sadari Aku adalah yang menguasai perasaan dan pikiran, jadilah tuan di atas diri sedulur sendiri… keluarlah…..seperti melepaskan baju, lalu tinggalkan dan jangan sedulur memikirkan semuanya itu. Karena peralatan mempunyai batin naluri yang akan bergerak menurut fungsinya. Perhatikan saat tidur … aku meninggalkan tubuh tanpa harus memikirkan bagaimana nantinya badanku, kenyataanya tubuh bekerja menurut yang dikehendaki oleh nalurinya sendiri.

 Sadarkan sang Aku. Hubungkan dengan dzat yang Maha Mutlak …hadirlah dihadapan-Nya sebagaimana kesaksian Aku dialam Azali…Panggillah …penuh santun YA ALLAH … YA ALLAH … tundukkan jiwa sedulur dengan hormat … dan datanglah kehadirat-Nya dengan terus memanggil ya ALLAH …YA ALLAH … timbulkan rasa cinta yang dalam …hadirlah terus dalam dzikir … biarkan sensasi pikiran dan perasaan melayang-layang …Sadarkan dan kembalikan bahwa Aku bukan itu semua … AKU ADALAH YANG MENYAKSIKAN SEMUANYA … BERSAKSILAH DENGAN MENGUCAPKAN DUA KALIMAT SYAHADAT … SAMPAIKAN DO’A SALAWAT UNTUK RASULULLAH .DAN KELUARGANYA. TERUSKAN AKU MELAYANG MENEMBUS SEMUA ALAM-ALAM YANG MENGHALANGI, BIARKAN AKU BERJALAN MENUJU YANG MAHA TAK TERHINGGA … jangan perdulikan kebisingan diluar diri kita .. teruskan jangan berhenti sampai ada sambutan … hingga dzikir sedulur akan berubah dengan sendirinya bukan dari rekayasa pikiran … menjadi Laa Ilaaha Illallah… Kalau sudah mencapai keadaan seperti ini …dzikir akan terbawa saat sedulur bekerja … menyetir mobil dan mengangkat takbir, saat shalat ataupun wudhu….… Suasana dzikir terus membekas dan menyebabkan sukma menjadi tenang luar biasa, dzikir bukan lagi sebuah lafadz akan tetapi merupakan suasana ingat dan ihsan. Apabila keadaan dzikir udah terasa menyelimuti sukma, pikiran dan badan, frekwensi getaran makin lama makin terasa dan semakin kuat rasa sambung kepada Allah. Sukma sedulur semakin sensitif mudah menangis dan kadang tidak bisa ditahan saat sedulur membaca Alqu’an dan shalat. Ketika sedulur menghadirkan atau menghubungkan diri dengan Allah, tiba-tiba muncul rasa haru … merinding …. Badan terasa agak berat dan bergoncang …. seperti ada muatan getaran yang menyelimuti badan …semakin kuat hubungan sedulur dengan Allah, maka akan semakin kuat getaran yang ditimbulkannya … biarkan getaran itu mengalir …dengan getaran itulah sedulur tidak lagi terganggu oleh pikiran dan khayalan yang melayang-layang … Adanya getaran merupakan sambungan dengan Allah … biasanya sedulur tidak akan kuat menahan tangis yang tiba-tiba muncul ….Kadang sedulur akan dituntun shalat ..dituntun berdzikir … dituntun bersujud. Biarkan jangan ditolak atau dilawan … pasrahkan saja dengan ikhlas. Sedulur tidak akan mengalami rasa penat, capek dan jenuh walaupun itu terjadi berjam-jam lamanya. Sekalipun hal itu dilakukan pada waktu malam hingga pagi .. tubuh rasanya menjadi segar dan tidak lemas … bahkan terasa lebih rileks dan nyaman. Semakin sedulur tekun berkomunikasi kepada Allah semakin halus getaran yang muncul. Sedulur mungkin menjadi heran tatkala agak sulit marah, sukma lebih terkendali tanpa ada penahanan atau pemaksaan. Sukma menjadi lunak dan menimbulkan perangai yang sangat lembut. Sukma terus menerus berdzikir bukan dari keinginan nafsu… dzikir itu muncul dari rasa Aku yang dalam… tiada bisa dibendung ….rasanya seperti ditarik oleh rasa yang sangat kuat. kondisi seperti itu pikiran menjadi lemah tidak lagi liar seperti semula Nafsu menjadi teredam dan istirahat …yang ada tinggal rasa atau getaran iman yang dalam dan muncul tiada bisa dicegah… Hubungkan rasa Ingat kepada Allah … Timbulkan rasa rindu dan cinta kepada Allah … Hadirkan sukma sedulur dan pasrahkan jiwa raga … Mohonlah bimbingan kepada-Nya … Ya Allah Ampuni kami …. Ya Allah Ajarkan kami dan bimbinglah kami didalam menuju makrifat kepada Engkau, Ya Allah lindungilah kami dari godaan nafsu setan yang terkutuk       `````BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM…… ASYHADU ANLAA ILAHA ILALLAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADARRASULULLAH ….ALLAHUMMA SHALLI `ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA `ALA AALI SAYYIDINA MUHAMMAD YA … ALLAH … YA ALLAH …YA ALLAH …YA ALLAH …..YA ALLAH … YA ALLAH …YA ALLAH … INNAMA AMRUHU IDZA ARODA SYAI’AN AYYAQULA LAHU KUN ======YA ALLAH HANTARLAH SUKMAKU UNTUK MENUJU KE SURGA DLL ====== FAYAKUN ALHAMDULILLAHIROBBILALAMIN Hantarlah sukma dengan nama Allah sampai sedulur mendapatkan sambutan oleh Allah SWT….. gerakkan sukma kemanapun sedulur inginkan, ke surga, ke neraka, atau ke dalam rengkuh rasa NYA yang Maha Kudus…. Apabila serius biasanya lebih cepat bisa …. Lakukanlah hal ini setiap hari … walaupun hanya sepuluh menit…Atau bisa dilakukan sambil berjalan, diatas kendaraan, menjelang tidur sambil berbaring … Tutuplah dengan bersujud dengan rasa syukur…. Mudah-mudahan sedulur mendapatkan bimbingan dari Allah Taala…. Mohon maaf atas segala kekurangan … wassalamualaikum wr wb